Encroachers VS Excellent Communicators

Standar

Globalisasi, demokratisasi, free-market economy, telah menjadi kata-kata yang melekat ketika banyak orang mencoba menggambarkan gejolak di dunia saat ini. Industri-industri berkembang dengan pesat, teknologi-teknologi baru muncul menjamur, batas-batas wilayah mengabur seiring dengan munculnya internet, kebebasan pers meledak, orang-orang tidak lagi terkurung oleh batasan jarak dan waktu. Siapapun dapat berhubungan dengan orang lain di manapun dan kapanpun yang diinginkan. Sebuah fenomena tentang dunia yang berubah telah lahir mengiringi tumbuhnya peradaban manusia. Kekuasaan yang dulunya dipegang oleh pemerintah, raja-raja, dan para pemilik modal telah bergeser menjadi kekuasaan publik. Demokratisasi telah membuat publik memiliki posisi yang kuat dalam mengawasi jalannya roda pemerintahan. Free-market ekonomyyang menghasilkan ketatnya persaingan dunia usaha membuat para pemilik modal, mau tidak mau, berorientasi untuk memenuhi kebutuhan publik sebagai konsumen.

Fenomena ini membuat lahirnya kebutuhan para pemegang kekuasaan tradisional untuk dapat mengambil hati publik. Pemerintah maupun pengusaha membutuhkan kepercayaan dari publik agar dapat terus berjaya dalam setiap aktivitas yang dilakukannya. Sedangkan publik telah menjadi sebuah kelompok yang tidak mudah dipengaruhi dan dikendalikan. Berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi seperti internet dan media media baru diiringi dengan lahirnya kebebasan pers menjadikan publik semakin kritis dan peka terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Setiap gejolak yang terjadi dalam sebuah lembaga negara maupun perusahaan, positif maupun negatif, akan dapat dengan cepat menyebar tanpa terbatas ruang dan waktu secara ‘real time’

Keadaan ini menyebabkan semakin meningkatnya kebutuhan akan kehadiran praktisi-praktisi Public Relations (PR), termasuk di Indonesia. PR memiliki tugas besar untuk mencapai saling pengertian (mutual understanding) antara perusahaan dengan publiknya. Karena itu, muncullah kebutuhan yang besar akan kehadiran praktisi-praktisi PR profesional dan handal. Namun masalahnya adalah, kebutuhan akan PR tersebut tidak seimbang dengan jumlah praktisi-praktisi PR yang dilahirkan oleh institusi-institusi pendidikan di Indonesia. Pada awalnya, institusi pendidikan di Indonesia tidak menganggap begitu penting pendidikan Public Relations. Kekurangan ini ditutupi oleh berbagai pihak yang melirik profesi PR sebagai sebuah profesi yang memiliki masa depan cerah. Orang-orang ini dikenal dengan istilah “encroachers” (Lauzen,1995 ‘those not qualified or trained for a professional communication role’)

Encroachers adalah orang-orang yang berprofesi sebagai PR namun tidak memiliki latar belakang pendidikan komunikasi atau public relations. Orang-orang ini adalah para praktisi PR dengan keahlian tradisional (traditional communicaton skills). Mereka memiliki kemampuan-kemampuan dalam penulisan, pengeditan, desain grafis, teknis produksi, hubungan media dan lainnya. Para encroachers ini adalah sejumlah teknisi yang mengetahui bagaimana cara menghasilkan publisitas untuk organisasi. Mereka mengetahui bagaimana menjawab pertanyaan media, menyediakan sumber materi dan materi tambahan terkait berita-berita penting yang berhubungan dengan organisasi. Ini semua merupakan dasar dari strategi komunikasi satu arah (one-way communication), dimana komunikator menyediakan informasi mengenai organisasi kepada publik.

Namun, perkembangan dunia bisnis saat ini membuat kebutuhan akan PR tidak lagi hanya sekedar kemampuan-kemampuan tradisional tersebut. Komunikasi yang dibutuhkanpun telah beranjak dari one-way communication menjadi two-way communication. Perusahaan tidak lagi memegang arah terhadap kebutuhan publik, namun sebaliknya, publik yang menjadi penentu ke mana dan bagaimana perusahaan akan berjalan. Dengan ini, peran PR telah meningkat menjadi peran sebagai ’excellent communicator’ tidak lagi ‘just a communicator’

International Association of Business Communicators (IABC) membiayai sebuah studi mengenai fungsi ideal PR dalam sebuah organisasi. Studi ini diberi nama Excellence. Komunikasi excellence telah menjadi sebuah hal yang menarik bagi praktisi-praktisi PR terkini mengenai kondisi PR yang ideal. Komunikasi Excellence menyediakan alat yang membantu organisasi untuk berkomunikasi dengan lebih efektif dan membangun hubungan yang menguntungkan dengan publik-publik kuncinya. Komunikasi Excellence ini telah terbukti membawa pengaruh yang baik bagi berbagai macam organisasi di dunia.

Seorang PR yang excellence bertindak sebagai boundary spanner, environmental scanner, dan harus mampu menciptakan “early warning system” bagi organisasinya. Para PR excellence memainkan komunikasi dua arah yang saling menguntungkan dengan publik. Ia benar-benar telah menjadi corong organisasi untuk berhubungan dengan publik. Setiap gejolak dan aspirasi dari publik dapat diakomodir menjadi masukan-masukan berharga bagi organisasi. Organisasi akan menjadi peka dan proaktif terhadap kebutuhan-kebutuhan dan harapan-harapan publik. Krisis-krisis dengan kerugian besar dapat dihindari melalui perencanaan yang matang. Dengan ini, perusahaan-perusahaan dengan PR-PR excellence dapat memenangkan pertarungan mendapatkan hati publik sebagai konsumen. Pemerintahpun dapat memenangkan hati rakyat untuk menjalankan roda pemerintahan dengan damai dan dukungan penuh dari setiap pihak.

Pekerjaan-pekerjaan seperti ini tentu tidak dapat dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki latar belakang yang kuat mengenai Public Relations. PR tidak lagi hanya menjadi sebuah profesi yang menjadi pajangan perusahaan atau sekedar melakukan pekerjaan-pekerjaan teknis. PR membutuhkan pemahaman mendalam mengenai cara-cara membangun hubungan dua arah yang saling menguntungkan dengan publik, melakukan negosiasi, membuat konsep jangka panjang berdasarkan penelitian, perencanaan strategis, mengantisapasi manajemen isu dan krisis, membuat evaluasi, budgeting, dan masih banyak hal-hal yang tidak mungkin dipelajari dalam waktu yang singkat. Inilah yang membedakan PR Excellence dengan para Encroachers.

Enroachers maupun PR Excellence sama-sama melaksanakan profesi PR. Namun mereka berbeda dalam kualitas dan profesionalitas. Encroachers dengan kemampuan komunikasi tradisionalnya memang dibutuhkan oleh perusahaan. Namun, dunia telah berubah menyebabkan kemampuan tersebut tidak lagi menjadi yang utama. PR excellence harus mampu memainkan peran ’excellent communicator’ agar dapat memenangkan pertarungan dalam era globalisasi, demokratisasi dan free-market economy saat ini. “Berita baiknya adalah bahwa organisasi dengan program-program excellent memiliki keahlian komunikasi yang kuat. Berita buruknya adalah bahwa kemampuan tradisional bukanlah merupakan apa yang membuat mereka excellent.”

*) Penulis adalah President Pr Society of Indonesia (// <![CDATA[
var prefix = ‘mailto:’;
var suffix = ”;
var attribs = ”;
var path = ‘hr’ + ‘ef’ + ‘=’;
var addy80575 = ‘magdalenawenas’ + ‘@’;
addy80575 = addy80575 + ‘prsociety’ + ‘.’ + ‘or’ + ‘.’ + ‘id’;
document.write( ‘‘ );
document.write( addy80575 );
document.write( ” );
// ]]>
magdalenawenas@prsociety.or.id// This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it// <![CDATA[
document.write( ” );
// ]]>)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s