Kondisi PR dan Periklanan di Indonesia

Standar

Humas:

Segenap kegiatan dan teknik/ kiat yang digunakan oleh organisasi atau individuuntuk menciptakan atau memelihara suatu sikap dan tanggapan baik dari pihak luar terhadap keberadaan dan sepakterjangnya. (Sumber : Kamus Fund and Wagnal, American Standard Desk Disctionary).
Humas Pemerintah:Humas yang diselenggarakan oleh lembaga PemerintahPusat maupun Pemerintah Daerah yang meliputi kegiatan komunikasi dua arah secara timbal balik dengan publik intern dan publik ekstern, dalam rangka membina kerjasama yang akrab demi kepentingan bersama yang dilandasi azaz saling pengertian dan saling mempercayai. (Sumber : Kamus Komunikasi, Drs. Onong Uchjana Effendy, MA). Istilah Public Relations (PR) atau yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai hubungan masyarakat (Humas) pastilah sudah dikenal luas. Fungsi humas juga dikenal luas di lembaga pemerintahan maupun perusahaan profit. Sebagai bagian penting yang tak terpisahkan dalam kegiatan rutin lembaga, PR terus dikembangkan dan luwes bergerak sesuai keadaan dan kebutuhan. 
Apa dan bagaimana Public Relations itu berkembang dan dilaksanakan ?
Presiden Amerika Serikat Thomas Jefferson pertama kali mengenalkan istilah Public Relations (PR) di hadapan Konggres pada tahun 1807  www.aboutpublicrelations.net). Dalam kenyataannya, banyak ahli percaya bahwa pemunculan istilah Public Relations (PR) ada dalam Year book of Railway Literature pada tahun 1897. Perang Dunia I juga membantu pengembangan PR sebagai sebuah profesi.
Beberapa praktisi PR seperi Ivy Lee, Edward Bernays dan Carl Byoir memulai pekerjaan mereka saat bergabung dengan “Committee on Public Information” atau juga yang dikenal dengan “Creel Byoir” yang mengatur publikasi selama Perang Dunia I. Banyak ahli sejarah percaya Ivy Lee merupakan praktisi PR pertama. Namun Erward Bernays lah yang diakui hingga sekarang sebagai peletak dasar profesi PR. Saat menggambarkan pengertian asli dari PR, Bernays mengatakan : “Ketika saya kembali ke Amerika Serikat, saya memutuskan bahwa jika Anda dapat menggunakan kata Propaganda untuk perang, Anda juga dapat menggunakannya untuk perdamaian. Dan propaganda menjadi sebuah kata yang buruk karena digunakan oleh Jerman. Karenanya saya mencoba menemukan kata lain Dewan dalam Public Relations.”
Pada tahun 1950, Public Relations Society of America (PRSA) mengemukakan standar profesional untuk praktek PR yang pertama. Dalam standar itu termaktub beberapa prinsip PR seperti pembelaan, kejujuran, keahlian, kebebasan, kesetiaan dan keterbukaan. Selain itu juga memperhatikan kebebasan arus informasi, persaingan sehat, menjaga kepercayaan serta pengembangan profesi.
Ahli PR Scott Cutlip, Allen Center dan Glen Broom menggambarkan proses PR dalam empat tahapan (1994). Pertama adalah mengidentifikasi dan menentukan masalah hubungan dengan khalayak menggunakan analisa SWOT (Strength, weakness, opportunities, threats). Secara singkat, tahapan ini harus mampu menjawab pertanyaan “apa yang sedang terjadi sekarang?”
Tahap kedua adalah merencanakan strategi yang akan dilakukan untuk mengatasi keadaan. Proses ketiga adalah menjalankan strategi yang telah ditentukan dan mengkomunikasikan dengan khalayak. Terakhir, harus dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan strategi PR. Seberapa dalam dan luas dampak pelaksanaan strategi itu mempengaruhi pendapat umum terhadap citra positip lembaga.
Model proses lain yang dikembangkan Sheila C Crifasi (2000) menggunakan akronim ROSIE. Akronim itu mendefinisikan lima tahap proses yakni Research, Objectives, Strategies, Implementation and Evaluation. Sedangkan Dr. Kathleen S Kelly menjelaskan lima tahapan yakni Research, Objectives, Program, Evaluations and Stewardship.
Para profesional PR menggunakan metode yang berbeda untuk menganalisa hasil pekerjaan mereka. Metode yang sama digunakan untuk mendefinisikan media komunikasi mana yang akan digunakan dalam proses dan strategi PR. Selain itu alat apa yang akan digunakan untuk menyampaikan pesan seperti press release, brosur, web site, paket media, video berita, konferensi pers maupun penerbitan media internal lembaga.
Teknik dan Metode
Praktek PR modern mengenal teknik dan metode yang baku dalam menjalankan fungsinya
Sebuah teknik dasar yang digunakan dalam PR adalah mengidentifikasi khalayak sasaran dan menjalin setiap pesan yang menarik bagi khalayak itu. Khalayak disini bisa masyarakat umum, ditingkat nasional maupun internasional.
Pesan yang disampaikan oleh PR bisa dalam bentuk press release. Press release adalah sebuah pernyataan tertulis yang disebarluaskan ke media massa. Bentuk ini merupakan alat dasar dari kegiatan PR. Untuk menyusun press release, ada aturan 5 W 1 H yang harus dimuat didalam paragrap-paragrap sebagai sebuah fakta penting. Yaitu What yang menjelaskan kejadian atau peristiwa apa yang akan disiarkan. Who memaparkan siapa saja yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Kapan (When) kejadian itu berlangsung dan dimana (Where) serta latar belakang mengapa (Why) peristiwa itu terjadi. Sedangkan perincian peristiwa itu terjadi dan bagaimana (How) peristiwa itu berlangsung.
Kemajuan teknologi informasi yang memunculkan teknologi internet membuat PR juga memanfaatkan kelebihan internet menyebarluaskan press release. Salah satu bentuknya adalah penggunaan Newsroom. Trend atau kecenderungan mengoptimalkan teknologi internet ini merupakan bagian dari bentuk baru dari press release.
Newsroom mampu menampilkan lebih banyak press release dalam waktu lebih singkat dan dengan tampilan yang enak dipandang mata. Karenanya muncul pula bentuk baru yang lebih lengkap dari hanya sekadar teks dan photo. Press release dalam format video (video news releases) dan audio news releases dapat menampilkan informasi yang lebih lengkap dan menarik yang dapat dimanfaatkan khalayak termasuk pekerja pers. Pada kondisi ini, peran PR akan lebih sangkil mendukung citra lembaga yang diwakili PR.
Kesimpulannya, fungsi PR dalam menjalin hubungan baik dengan khalayak umum akan lebih mudah dilakukan bila memahami teknik, taktik dan metode PR. (*/Junaedi, Penulis adalah Pranata Humas Muda Bagian Humas Setda Kabupaten Semarang, redaktur pelaksana majalah gema serasi on line http://www.gemaserasi.web.id)
Salah satu contoh informasi, dimana PR di Indonesia harus lebih memantabkan perannya!
Sekitar 200 tokoh Public Relations dari 21 negara saat ini berkumpul di Bali untuk mengikuti konferensi regional Asia Pacific International Public Relations Association (IPRA). Konferensi yang bertemakan ?Building Brigde Through Dialogues? ini akan berlangsung 5-6 September.
Menurut National Chair IPRA Indonesia Teddy Kharsadi, tema itu dipilih karena globalisasi telah membuat hubungan antar bangsa terasa amat dekat. Selain membuka peluang untuk saling bekerjasama, globalisasi berpotensi menimbulkan konflik akibat kesalahan persepsi. ?Disini kita ingin melihat peran humas untuk mendorong kebersamaan dan menghindari masalah,?
Tema itu kemudian dibahas dalam enam isu pokok. Yakni, Etika dalam Public Relations, Dialog dan Diplomasi, Komunikasi Lintas Budaya, Country Branding, Tanggungjawab Sosial Institusi dan Tantangan Global di Tengah Isu Lokal.
Digelarnya konferensi IPRA di Bali merupakan yang pertama kalinya di Indonesia sejak PR Indonesia menjadi anggota pada tahun 1985. ?Ini merupakan kesempatan untuk meyakinkan dunia bahwa Bali sangat aman untuk kunjungan wisatawan,? sebut Teddy. Sebab, IPRA merupakan organisasi yang sudah eksis sejak 50 tahun yang lalu dan para anggotanya dipercaya oleh kalangan internasional untuk memberikan saran mengenai kondisi suatu negara.
Sementara itu Presiden IPRA 2007 Philip Sheppard menyatakan, dalam konferensi akan dipaparkan mengenai kode etik PR yang baru yang disebut sebagai ?Code Of Brussel 2007?. Dia menyebut, dalam masa kepemimpinannya, masalah etik mendapat perhatian utama, khususnya dalam etika saat seorang PR berperan dalam lobi-lobi internasional.
Code of Brussel berisi 20 ketentuan etika yang harus dipegang seorang PR. Dua diantaranya yang sangat penting adalah integritas dan dialog. Prinsip Integritas mengharuskan seorang PR untuk menyampaikan informasi sesuai fakta yang ada, sedang prinsip dialog berarti keharusan untuk memberi kesempatan kepada pihak lain untuk mengungkapkan pikiran dan persepsinya terhadap suatu masalah.
Kondisi PR di Indonesia
Di Indonesia Public Relations perlu merubah perannya dalam mempromosikan corporate, dengan menerapkan suatu strategi Public Relations untuk dapat mempromosikan perusahaan dalam mencapai tujuan bersama dari organisasi perusahaan tersebut.
Di Indonesia harus juga meningkatkan Strategi Marketing Public Relations yaitu kiat dan teknik promosi penjualan dan pengenalan produk atau perusahaan yang memadukan kekuatan publisitas dengan pendekatan teknik-teknik jurnalistik dan pemanfaatan saluran khusus dengan mengadakan kegiatan atau event yang mengandung unsur penerangan tentang informasi produk-produk baru dan hingga upaya mempengaruhi atau menciptakan opini publik yang menguntungkan, selain itu melakukan perubahan struktur organisasi dengan menempatkan Public Relations pada posisi yang tinggi langsung dibawah Managing Director atau pembuat keputusan / kebijakan dan terdiri dari dua bagian yaitu PR Event dan PR Media Relations.
Di Indonesia PR di pemerintahan kurang dianggap penting. Tetapi disadari atau tidak PR sangat menentukan kesuksesan suatu lembaga atau organisasi, guna mempertahankan dan meningkatkan image dan citra positif pada lembaga atau organisasi tersebut.
Idealnya memang antara PR dan marketing terjalin sinergi atau saling memperkuat. Marketing Public Relations, yaitu program pemasaran yang simpatik dan bernuansa PR; atau sebaliknya trik PR yang bisa mendukung promosi atau penjualan produk. Di Indonesia, tren ini mulai diterapkan, antara lain program Rinso Kasih yang mengumpulkan pakaian bekas dari masyarakat, lalu disumbangkan (setelah dicuci dulu dengan Rinso Anti Noda…!). Program yang mirip dilakukan oleh Morinaga yang mengumpulkan mainan anak, juga untuk disumbangkan (untuk menarik simpati publik).
Masih banyak contoh lain, seperti Panasonic Awards, Lifebuoy Berbagi Sehat, dan baru-baru ini Telkom 007 menyisihkan Rp 100,- untuk setiap percakapan internasional (tahun 1996, SLI Indosat 001 sudah melakukan lebih dulu). Dalam hubungannya dg Marketing, PR adalah Pemasaran terselubung.Selain tentunya menjaga citra organisasi, tujuan akhir PR campaign adalah SELLING.
PR itu ruang lingkupnya sangat luas, bukan hanya hubungan masyarakat, media massa, pemerintah ataupun pemasaran.PR adalah manajemen komunikasi antara sebuah organisasi dg PUBLIK, Bagaimana organisasi berkomunikasi dgn PUBLIK utk berbagai kepentingan. Kuncinya skrg adalah siapa saja yg dianggap PUBLIK oleh sebuah organisasi dan sejauh mana tingkat kepentingannya bagi organisasi. PUBLIK adalah pihak2 yg berpengaruh thd suatu organisasi baik lgsung maupun tdk lgsung. Semakin besar & luas ruang lingkup sebuah organisasi semakin bervariasi PUBLIK yg harus diperhitungkan. Inilah yg menyebabkan munculnya berbagai macam TITLE yg membuat opini masyarakat menjadi ter-kotak-kotak ttg apa itu PR. Title itu mencerminkan PUBLIK dgn siapa organisasi itu BERKOMUNIKASI yaitu: Pemerintah (Government Relations), Media (Media Relations),Masyarakat luas (Community relations), Karyawan (Employee relations), investor (investor relations), ataupun dgn industri secara luas (Corporate Communication). Semua itu adalah PR.
Salah satu fungsi PR yg sgt penting yaitu pada saat ada ISU/CRISIS menerpa sebuah organisasi.Ketika Tsunami melanda Aceh, isu merebak di dunia pariwisata bahwa daerah lain juga terkena Tsunami karena terjadinya di INDONESIA ataupun waktu ada kerusuhan etnis di Jakarta, semua daerah pariwisata di Indonesia terkena imbasnya padahal Indonesia tdk hanya Jakarta. Untuk itulah diperlukan sebuah strategi PR yg efektif utk meng-counter isu tsb agar turis ttp berkunjung. Fungsi PR disini adalah membuat strategi komunikasi efektif agar isu tsb tdk merugikan organisasi.
Teknologi dalam pelaksanaan peran PR :
  • Video Conferences
Marak pada tahun 1980 an, dapat menjangkau audience yang cukup besar dan penyampaian pesan nya dapat mencakup domestic dan global audience kemudahannya dapat dilihat dengan video conference kita dapat berbicara bahkan kita bisa melihat lawan bicara kita, dapat digunakan di tempat – tempat yang telah disediakan, seperti di Hotel,dan Teater. maksud dan tujuan digunakannya video conferences yaitu untuk digunakan oleh karyawan yang berkomunikasi khususnya jika sedang menyelenggarakan acara atau untuk berhubungan dengan media.Di Indonesia sudah ada yang menggunakan teknologi tersebut, namun masih dalam jangkauan prusahaan besar.
  • Video New Release
Dikembangkan dari Televisi dan teknologi VCR, video new release (VNRs) setara dengan news releases yang di print, tetapi bukan hanya dapat dibaca, tetapi juga dapat dilihat dan didengarkan dengan seksama. Biasanya video dan audio bersatu, namun dalam konsep news realeases video dan audio terpisah, dikarenakan televisi tersebut memberikan audio tersendiri. Edited B-roll merupakan salah satu bentuk VNRs yang berbahan kasar dan berdurasi 3 sampai 5 menit tanpa diedit, yang apabila sudah di tambah kan fitur – fitur yang kreativ akan menjadi menarik. Di Indonesia sepertinya belum menggunakan teknologi tersebut, namun jika digunakan mulai tahun 2010 mungkin dapat memperbaiki kondisi komunikasi Indonesia yang sering terhambat untuk melakukan komunikasi singkat dan mempercepat hubungan antar media atau PR.
  • Webcasting
Live press conference biasanya menggunakan teknologi yang memiliki tipe produksi broadcasting tersebut. Pada kasus yang terjadi dengan media, reporter, atau produser dapat dilihat dari desktop yang ia miliki tidak hanya video nya saja, bahkan tulisan dan foto nya pun dapat dilihat.Teknologi ini sudah marak digunakan di Indonesia, khususnya di prusahaan besar.
  • Personal Computer
Penyimpanan berkas – berkas penting yang digunakan oleh PR di komputer nya, teknologi ini sudah berkembang sangat pesat di Indonesia, karena data base yang sangat penting yang berkaitan dengan prusahaan disimpan oleh PR yang bersangkutan.
  • On – Line Monitoring
Analisa yang digunakan oleh PR dari sebuah perusahaan dalam menganalisa perbandingan pekerjaan melalui media dengan kompetitor, klient, dan pelanggan yang memerlukan pelayanan ekstra agar dapat bersaing dengan komptitor. Di Indonesia teknologi ini sangat dibutuhkan dan sudah mengalami perkembangan yang cukup pesat.
  • The E – Mail Revolution
Teknologi e – mail lebih sering dilakukan oleh organisasi – organisasi kecil, karena mereka dapat mengumpulkan pendukung untuk menaikkan keuntungan bagi prusahaan. PR yang bekerja dalam organisasi besar tidak menjadikan e- mail sebagai satu pilihan dalam menerbitkan news release. Di Indonesia e – mail masih cukup sering digunakan, namun lebih sering menggunakan fax dan surat.
  • Interactive PR
Elektronik presskit adalah semua presskit yang dikemas dalam bentuk e – mail atau internet. yang terdiri atas tulisan, suara, foto, audio, dan video. Keuntungan dari interaktif news release dan elektronik presskit adalah mereka dapat di update setiap waktu. Di Indonesia teknologi ini sudah sangat lumrah dilakukan karena merupakan basic atau dasar dalam penjalanan peran sebagai PR.
PR dan Teknologi = LESS STRESS WORK
Dalam buku “Hubungan Masyarakat Suatu Studi Komunikologis” yang ditulis oleh Prof.Drs.Onong Uchjana Effendy, M.A., dijelaskan mengenai operasionalisasi Hubungan Masyarakat bahwa humas memiliki aktifitas seperti:
1. Penyusunan pidato
Kahumasan yang terampil akan menugasi salah seorang karyawannya untuk mengolah segala data yang mungkin pada suatu ketika diperlukan. Pengolahan data ini meliputi kegiatan-kegiatan : pengumpulan (filling), pencarian (retrieval), pemeliharaan (file maintenance), pemeriksaan (verifying), pembandingan (comparing), pemilihan (sorting), peringkasan (ex-tracting), dan penggunaan (manupulating). Dengan demikian, setiap kahumasan memerlukan data tertentu yang dalam waktu yang relative amat singkat dapat diperolehnya. Jadi dalam aktivitas ini perkembangan teknologi dibidang komputerisasi sangatlah membantu dalam sistem filling, file maintenance dan kegiatan lainnya.
2. Penerbitan berskala organisasi
Organisasi kekaryaan (work organization) seperti departemen pemerintahan, perusahaan, lembaga pendidikan, dan badan-badan lainnya biasanya menerbitkan suatu berkala (periodicals) sebagai sarana publikasi organisasi kepada public. Biasanya – dan memang seharusnya bila ditinjau dari kegiatan komunikasi – pengelolaan berkala organisasi dibebankan kepada kahumasan.
Kahumasan yang ditugasi menerbitkan publikasi seperti itu dapat mengklasifikasikannya berdasarkan public yang dijadikan sasaran, yakni sebagai berikut :
a. Berskala intern
Untuk skala intern atau menurut communication domain merupakan bentuk internal communication, merupakan fungsi humas yaitu mengatur komunikasi antara public intern yang umumnya adalah para karyawan. Bagaimana bentuknya tergantung besar dan kecilnya perusahaan atau organisasi. Di sinilah pentingnya perkembangan teknologi bagi profesi humas karena jaringan intranet yang dapat diakses melalui komputer para karyawan untuk perusahaan besar dapat membantu proses pengiriman informasi dari satu karyawan ke karyawan lainnya dengan lebih efektif.
b. Berskala ekstern
Dari istilahnya mudah dipahami bahwa berkala ekstern adalah penerbitan untuk public di luar organisasi melalui media massa, yang adalah orang-orang yang ada kaitannya, dan diduga atau akan ada kaitannya dengan organisasi.
Sebagai publikasi organisasi, terutama organisasi bentuk perusahaan, penerbitan ini amat penting untuk menunjukkan citra perusahaan dan untuk menanamkan kepercayaan public kepada perusahaan. Oleh karena itu sebaiknya penerbitan berskala ekstern ini menggunakan media yang informative, edukatif namun juga harus efektif seperti teknik terbaru dari marketing yaitu viral marketing salah satu bentuk usaha meningkatkan publikasi dan awareness yang menggunakan media seperti Word of Mouth dan Internet.
Terdapat hubungan antara viral marketing ini dengan teknik dalam kahumasan yaitu bagaimana humas menyampaikan pesan-pesan kepada public eksternal melalui forum atau blog di internet. Seperti misalnya bagi target yang ingin membeli handphone, mereka akan membuka Komunitas Handphone sebuah forum yang dapat diakses melalui internet dan hanya dengan mengetik tipe handphone yang diinginkan maka sederet informasi dari orang-orang yang telah memiliki pengalaman dengan handphone tersebut dan mempostingkan pengalamannya melalui forum tersebut menjadi sumber informasi bagi target untuk menjadi bahan pertimbangannya dalam memilih handphone.
Berskala intern-ekstern
Isi berskala internal – eksternal dan sendirinya harus memenuhi kebutuhan kedua jenis public tersebut. kegiatan humas sering berhubungan dengan media, misalnya saja untuk launching sebuah acara atau iklan, seorang humas harus menyebarkan undangan kepada public baik itu internal atau eksternal seperti para undangan dan wartawan. Disini teknologi email sangat memudahkan proses pengiriman baik mengirim Press release, foto, undangan atau bahan-bahan lainnya kepada wartawan dan menyampaikan informasi lainnya tanpa harus memakan biaya besar untuk proses pengiriman dan memakan waktu yang lama.
3. Pembuatan film dokumenter dan media massa
Sebagai media komunikasi yang merupakan citra bergerak (audio –visual moving image) film semakin lama semakin penting dalam kehidupan manusia begitu pula bagi dunia kahumasan. Dalam abad ke-20 ini fuilm mengalami kemajuan pesat, apalagi semenjak diperkenalkan media televise kepada masyarakat, kalau film bersifat mekanis dengan bahan seluloid dan dipertunjukkan melalui proyektor, televise bersifat elektronik melalui udara.
Sifat elektronik yang dimiliki televise menyebabkan film bergeser karena public tidak perlu lagi ke gedung bioskop tetapi cukup di rumah yang dengan santai dapat menikmati beraneka ragam acara. Bukan saja cerita tapi juga berita, pengetahuan, musik dan sebagainya yang semuanya memenuhi kebutuhan masyarakat.
Bagi seorang humas perkembangan teknologi dalam bidang citra bergerak (moving image) yang didukung oleh media elektronik televisi itu merupakan suatu keuntungan, hal ini juga merupakan bentuk alat yang digunakan oleh humas untuk menyampaikan informasi untuk menjangkau masyarakat secara luas, biasa diketahui dengan iklan televisi.
Melalui media elektronik departemen humas dapat mempromosikan baik itu bertujuan untuk mempromosikan produk dari perusahaan atau untuk mempromosikan image dari perusahaan itu sendiri di mana pemilihan dari media massanya juga menjadi pengaruh terhadap penilaian dan hasil interpretasi public yang melihat atau mendengar.
Bagi kegiatan humas film documenter dianggap penting yakni sebagai rekaman sejarah perkembangan organisasi dan untuk evaluasi kemajuan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu kahumasan perlu memahami sedikit-banyak mengenai seluk-beluk film documenter tersebut. Dan teknologi seperti kamera digital dan kamera video merupakan sarana kemudahan dalam proses dokumentasi bagi seorang humas.
Kondisi Periklanan di Indonesia
banyak dari kita yang sering merasa kesal menonton acara TV bukan saja karena acaranya tidak bagus tetapi juga karena iklannya yang berlimpah. Sering terjadi, di saat seru-seru nya menonton kita terganggu karena iklan muncul. Dan yang tambah mengesalkan, jeda iklan itu cukup panjang.
Pesan
berdasarkan kode etik periklanan, iklan seharusnya bersifat mendidik dan memberikan penawaran yang baik terhadap masyarakat.Saat ini banyak iklan yang cenderung melewati batas dan tidak tepat sasaran,seperti halnya iklan yang seharusnya untuk orang dewasa dapat dengan mudah ditemukan di berbagai jam tayang. jadi waspadalah jika anda sekalian mempunyai anak kecil karena mereka butuh perhatian saudara.
Manfaat vs dampak
sebagai konsumen iklan tv kita tentu memiliki beberapa pengalaman baik dalam keluarga maupun lingkungan sekitar rumah tentang perilaku/kejadian-kejadian yang diakibatkan oleh iklan tv. baik aibat positif/negatif. misal anak jadi sering jajan dan lain sebagainya. dari artikel diatas, terkesan per UU periklanan di Indonesia masih kacau, tidak seketat di Barat.
Selain begitu banyaknya iklan mungkin yang sangat perlu dan penting buat kita perhatikan adalah kualitas iklan tersebut, bagaimana akibat yang ditimbulkan, masyarakat kita sudah banyak yang menjadi korban iklan, terutama anak-anak.
Perkembangan Surat kabar di Jawa
Kondisi suratkabar dan periklanan di luarJawa memang tak sebaik di Jawa, baik dan segi tiras maupun pendapat iklannya. Di Makasar dan sekitarnya, misalnya,jumlah suratkabar yang besar malah menimbulkan kompetisi yang tidak fair, khususnya ketika berebut mendapatkan iklan. Hal mi malahan menjadi bumerang yang memberikan pukulan bahkan bagi kehidupan suratkabar di sana. Sejak pemasang iklan mengetahui isi dapur suratkabar, dengan mudah mereka mendapatkan ruang iklan yang besar dengan pengeluaran uang yang sedikit. Kondisi ekonomi itu karena bukanlah barang yang mencari uang tapi uang yang memburu barang (seller’s market).
Sekarang perkembangan suratkabar di Jawa relatif jauh lebih baik. Apalagi, pada 1954 beberapa suratkabar sudah memiliki mesin percetakan atas prakarsa pemerintah. Suratkabar Pedoman dan Abadi di Jakarta, Pikiran Rakyat (Bandung), Suara Merdeka (Semarang), Suara Umum (Sunabaya), dan Mimbar Umum (Medan) memunyai mesin percetakan sendiri yang diperoleh melalui kredit dan Bank Industri.
Hambatan Utama Industri Dalam Negeri
Hambatan utama industri perikianan dalam negeri adalah kekurangan bahan baku atau peralatan kebutuhan industri dan perkebunan yang sebagian besar masih impor. Ini mengakibatkan hanya perusahaan-perusahaan besar saja yang membutuhkan jasa periklanan. Menarik untuk diketahui bahwa meskipun perkembangan perekonomian belum mapan, namun pada 1954 sempat terselenggara Pekan Raya Ekonomi Internasional (PRED.Maksud diselenggarakan PREP untuk memperkenalkan produk-produk nasional kepada dunia. Dalam pekan raya ini terlibat beberapa biro reklame nasional ikut meramaikan pekan raya tersebut, seperti Balai Iklan di Bandung, Aneta, Indonesia Reclame and Advertentie Bureau (IRAB),dan Korra di Jakarta.
Biro-biro reklame menyadari persepsi masyara kat yang menganggap rendah mutu segala produk yang dibuat oleh industri dalam negeri. Sampai-sampai mereka berpikir perlu suatu kampanye Bell Bikinan Indonesia, meskipun untuk melakukan “ge-rakan propaganda” ini mereka mengalami banyak hambatan akibat masih terbatas industri-industri pendukung periklanan. Bisa jadi mereka mengambil pelajaran dan apa yang dilakukan industri periklanan lnggris pada masa yang bersamaan, yaitu kampanye”Buy British”.
Di lnggris kampanye “beli bikinan sendiri”diselenggarakan oleh semacam Dewan Periklanan (Ad Council). Dewan ini merupakan suatu lembaga yang dibentuk mewakili masyarakat periklanan (pengikian, biro reklame, dan media) serta pemerintah, terutama dimaksudkan untuk melindungi industri dalam negeri.
Dalam kaitan ini, dalam ini kelompok kami menyarankan agar Radio Republik lndonesia (RRI) pun terbuka untuk beriklan, khususnya untuk barang-barang yang dibuat di dalam negeri. Upaya-upaya ini memang memiliki banyak kemungkinan yang positif bagi industri dalam negeri. iklan sebagai salah satu cara menyampaikan informasi tentang produk tetaplah relevan, terutama agar calon konsumen mengetahui bahwa sudah begitu banyak barang yang dibuat oleh putra-putra Indonesia, atau setidaknya sudah diproduksi di Indonesia”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s