media dan publik relation di era kompitisi

Standar

PERGESERAN paradigma media nasional menjadi media lokal (”community newspaper”) membuat surat kabar nasional ketar-ketir, sehingga mereka selain membuat surat kabar yang terbit lokal, juga membuat suplemen atau rubrik daerah agar tiras atau oplah media itu tetap bisa dijaga.

Berbagai sektor produk maupun jasa, termasuk industri media massa seperti surat kabar mengalami persaingan yang sangat ketat di era image kompetisi, berbagai upaya surat kabar dilakukan, salah satunya adalah membuat divisi public relations khusus, dengan nama marketing communication atau pun marketing public relations atau pun nama lainnya, ujung-ujungnya adalah untuk meraup image building (pembentukan citra), setelah itu melakukan kegiatan selling product (pemasaran).

Industri media sudah mulai menyadari pentingnya peran public relations (PR) dalam kegiatan marketing-nya, yang selama ini hanya mengandalkan strategi ilmu ekonomi (marketing), tetapi sekarang terjadi perkawinan antara ilmu ekonomi dengan ilmu komunikasi, sehingga muncul istilah atau kajian baru marketing communication atau marketing public pelations.

Dalam dunia perusahaan, seperti industri media, setidaknya ada dua divisi PR yaitu corporate public relations (CPR) dan marketing communication (MC) atau marketing public relations (MPR). CPR lebih beroreintasi terhadap pembentukan citra perusahaan, sedangkan MC atau MPR lebih berorientasi kepada pemasaran atau penjualan. Artinya CPR memelihara citra publik internal dan eksternal perusahaan di luar pembeli atau pelanggan, sedangkan MC atau MPR memelihara citra publik eksternal (khususnya pembeli atau pelanggan).

Memasuki era kompetisi ini pun, seorang pakar marketing Philip Kotler, mengakui pentingnya PR dalam dunia marketing, sehingga muncul konsep yang dibuatnya dengan nama mega marketing, yang terdiri dari product, price, place, promotion, power dan public relations. Menurut Kotler, aspek PR menjadi sangat penting dalam kegiatan marketing.

Memang marketing memasuki era yang harus lebih mengedepankan pentingnya pembentukan citra dan pemeliharaan reputasi di tengah persaingan media yang sangat ketat, sehingga “kesaktian fanatisme” pembaca yang selama ini dianut oleh media tersebut sudah harus mulai ditinggalkan, tetapi terus berupaya untuk merebut positioning perusahaan dengan kegiatan pencitraan dan pemeliharaan reputasi.

Berbicara tentang PR, para insan Humas akan menggelar Seminar Public Relations dan Musda Humas 2006 di Hotel Savoy Homann Bidakara, 13 September 2006, dengan menghadirkan keynote speaker Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan, Ketua Umum BPP Perhumas dan Direktur Umum Bank Indonesia Rusli Simanjuntak. Pembicara lainnya Ketua DPRD Jawa Barat, H.A.M. Ruslan, Budayawan Iwan Abdurachman, Direktur Pemasaran PT Pikiran Rakyat Januar P. Ruswita, Direktur PT Djarum Waska Warta.

Melalui tema seminar “Peran Strategis Manajemen Industri Public Relations di Era Kompetisi” mengupas tentang manajemen industri public relations dari perspektif sosial budaya, dan manajemen public relations dari perspektif bisnis (termasuk bisnis media).

Era kompetisi merupakan tantangan global yang harus dihadapi oleh para pelaku di berbagai sektor kehidupan, termasuk sektor media, sektor industri PR (pemerintahan, bisnis, dan organisasi nirlaba). Globalisasi pun telah menjadi kata yang terus menerus diperbincangkan oleh berbagai pihak, para pakar, praktisi maupun birokrasi dan kelompok masyarakat lainnya. Angin globalisasi berhembus melewati batas-batas negara, menerobos sampai pelosok desa, memicu timbulnya demokratisasi dan liberalisasi di mana-mana.

Sebagai negara yang berdaulat kita perlu mengkritisi arus globalisasi yang tetap menjadi bahan perdebatan. Perhumas melihat bahwa dampak globalisasi bagi Indonesia telah menjadi keniscayaan, dan kita harus siap menghadapi kompetisi yang semakin ketat di dalamnya.

Sebagai insan Humas, tentunya akan terus berupaya tentang bidang PR yang semakin diakui keberadaannya di masyarakat, baik itu perguruan tinggi, militer, perusahaan, yayasan, dan organisasi lainnya. Mengapa PR sangat diperlukan dalam era kompetisi ini, terdapat beberapa alasan para pakar PR antara lain: perusahaan semakin besar dan berkembang, (termasuk industri media), persaingan perusahaan semakin ketat, perkembangan teknologi komunikasi yang semnakin pesat (terutama munculnya era komunikasi online atau internet), masyarakat semakin kritis, haus informasi dan tidak ingin kepentingannya terganggu.

Public relations sebagai ilmu paling bontot dibanding ilmu lainnya seperti ekonomi, sipil, teknik, hukum dan ilmu lainnya yang terlebih dahulu eksis. Kini PR sebagai salah satu sub ilmu komunikasi mulai banyak dilirik dan dirasakan pentingnya PR dalam era kompetisi ini. Masyarakat sudah mulai banyak meminati bidang PR ini, sebagai contoh di sejumlah perguruan tinggi Jurusan Humas (PR) peminatnya cukup tinggi dibanding jurusan yang ada dalam satu rumpun komunikasi, malahan salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung, program studi komunikasi (ada PR di dalamnya) masuk dalam tiga besar program studi favorit calon mahasiswa dengan ekonomi dan kedokteran.

Kembali kepada pembahasan seminar public relations dan musda perhumas, tentunya seminar ini akan memberikan nuansa tersendiri dengan menghadirkan para pembicara yang sangat terkait dengan adanya era kompetisi. Para narasumber itu akan mengupas tentang PR di pemerintahan, PR di dunia legislatif, PR sosial budaya dan PR dari perspektif bisnis.

Memang masih banyak kendala tentang pentingnya peran PR saat ini, antara lain, banyak pimpinan yang belum satu bahasa tentang bidang ini, terutama belum menempatkan orang-orang yang profesional, malahan beberapa instansi masih menjadi jabatan buangan, secara struktur pun PR belum berada dalam pimpinan puncak, sehingga mempersulit PR untuk menjadi penerjemah kebijakan manajemen dan penyampaian aspirasi publik kepada pimpinan, kendala yang bersifat klasik belum memperoleh anggaran yang memadai untuk kegiatan PR, termasuk sarana dan prasarana PR dalam melayani kepentingan public masih memprihatinkan.

Memang untuk menghilangkan atau mengurangi kendala perlu adanya interaksi dan komunikasi atau duduk satu meja antara perguruan tinggi yang melahirkan SDM PR, masyarakat pengguna (industri media, industri jasa dan produk lainnya), masyarakat profesi (seperti Perhumas/Public Relations Association of Indonesia) agar dapat membuat standardisasi profesi PR yang saat ini tidak bias ditawar-tawar lagi sebagai profesi yang betul-betul diperlukan orang-orang profesional dengan standar yang jelas.

Dalam menjalani profesi PR, beberapa pakar mengemukan sedikitnya ada lima kualifikasi yaitu: (1) ability to communicate (kemampuan berkomunikasi), (2) ability to organize (kemampuan manajerial), (4) ability to get on with people (kemampuan membina relasi), (4) personality integrity (berkepribadian jujur dan professional), (5) imagination (banyak ide dan kreatif).

Seorang pejabat PR dituntut untuk memiliki kemampuan komunikasi lisan dan tulisan, seperti pidato, presentasi, wawancara pers, nara sumber forum seminar, menulis news release, menulis editorial di media house journal (perusahaan), menulis naskah pidato, dan kemampuan komunikasi lisan dan tulisan lainnya yang berkaitan dengan profesi PR.

Kemampuan manajerial diperlukan oleh seorang pejabat PR, seperti mengelola berbagai kegiatan PR special events, business meeting, konferensi pers, manajemen dan PR krisis, publisitas, serta kegiatan-kegiatan PR yang memerlukan keterampilan manajemen.

Kemampuan membina relasi sangat diperlukan oleh seorang pejabat PR, ia harus memiliki akses ke berbagai publik, dengan pengertian sehari-hari harus banyak bergaul, sehingga berbagai kegiatan PR yang memerlukan relasi tertentu akan mudah menguhubunginya dan dengan personal approach yang selama ini dijalin akan mempermudah melaksanakan kegiatan PR.

Berkepribadian utuh dan profesional mutlak diperlukan oleh seorang pejabat PR, karena ia harus menjadi sumber berita atau informasi yang layak dipercaya, sekali berbohong hancurlah citra dan reputasi dia sebagai PR, juga harus profesional baik sebagain penyandang profesi maupun sebagai pelayan komunikasi dan informasi bagi publik.

Persyaratan terakhir seorang pejabat PR harus memiliki banyak ide dan kreatif, terutama menghadapi berbagai permasalahan yang harus segera dicari pemecahannya, misalnya dalam mengatasi manajemen dan PR krisis, di sini dituntut banyak ide dan kreatif seorang pejabat PR untuk melakukan pemulihan citra akibat krisis tadi.

Mengakhiri tulisan ini, semoga para insan PR di Bandung dan di Jawa Barat ini dapat memilih ketua umum Perhumas BPC Bandung-Jawa Barat yang baru ini, bisa lebih mengedepankan peran Humas di era kompetisi dan membuat program-program yang sesuai dengan kebutuhan stakeholders-nya organisasi profesi Humas ini. Selamat berseminar dan bermusda, semoga sukses.***

Penulis, Pj. Ketua Perhumas BPC Bandung-Jawa Barat, dan Wakil Ketua Program Magister Public Relations (Pascasarjana Kelas Khusus) Fikom Unpad Bandung.

(Sumber: Pikiran Rakyat, 13 September 2003)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s